Langsung ke konten utama

Radikalisme, Terorisme, dan Mahasiswa


          akhir-akhir ini sering terdengar asumsi-asumsi bahwasannya radikalisme dan terorisme adalah ancaman di kalangan akademisi baik mahasiswa maupun tenaga pengajar. Ini dibuktikan oleh adanya kunjungan kepala BNPT pada musim penerimaan mahasiswa baru. Sasaran kunjungan ini adalah perguruan-perguruan tinggi untuk membekali mahasiswa dan segenap civitas. Pada tanggal 6 bulan 9 lalu kepala BNPT kali ini mengunjungi Universitas Widyatama Bandung untuk memberikan pembekalan resonansi kebangsaan serta bahaya radikalisme dan terorisme. “Pada kunjungan Koramil sebelumnya, kampus Widyatama dinyatakan bebas dari radikalisme dan terorisme. Dan kami berencana dan berupaya untuk terus mempertahankan status tersebut…” ujar Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga.

          Apasih sebenarnya radikalisme dan terorisme? dua kata yang selalu sensitif di telinga sebagian orang dan tentunya selalu mengacu kepada islam. Padahal arti kata radikal sendiri menurut KBBI adalah segala sesuatu secara mendasar, amat keras menuntut perubahan, maju dalam berpikir atau bertindak. Artinya ketika ada seseorang yang radikal, dia memikirkan segala sesuatu secara mendasar untuk adanya perubahan ke arah yang lebih maju. Bukankah hal-hal itu baik dan justru dibutuhkan pada jiwa-jiwa pemuda khususnya mahasiswa? Justru ketika upaya-upaya dilakukannya untuk melawan radikalisme di kampus itu hanyalah menjauhkan potensi kebangkitan berpikir di kalangan pemuda juga menjauhkan kekritisan dari mahasiswa itu sendiri. Padahal pemuda adalah jantungnya perubahan. Sekarang, mahasiswa benar-benar dibatasi akan peran dan fungsinya. Seakan-akan ada yang takut untuk dikritisi oleh kaum mahasiswa. Seakan-akan ada yang takut kebusukannya makin tercium dengan terjalankannya peran dan fungsi mahasiswa. Ada segelongan kelompok yang memang sengaja untuk menghambat apa yang terjadi sebenarnya. Ya, tak sedikit sekarang ini yang sadar akan ketidak jelasan system yang mengarah kepada kesengsaraat masyarakat. Tak sedikit pula sekarang orang-orang yang sadar akan pentingnya aturan islam diterapkan secara sempurna. Maka dari itu timbul keresahan dari para pemuka-pemuka system karena takut akan hilangnya apa yang telah mereka punya. Timbul dari sananya tuduhan-tuduhan radikal dan terorisme. 

          Sebenarnya mereka pun tau, untuk mencapai kesejahteraan adalah menjadikan islam sebagai solusi, mereka sadar betul akan hal itu. Dan potensi strategis dalam adanya perubahan ke arah yang lebih maju ada pada diri pemuda. Maka dari itu mereka sengaja menjadikan mahasiswa sebagai sasaran empuk agar mahasiswa takut untuk mengkaji islam dengan digembor-gemborkannya tuduhan radikalisme dan terorisme.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Sekedar Fenomena Alam

Pada pekan kedua Agustus tahun 2018 ini, kekeringan terus melanda di sejumlah wilayah di Indonesia. Sejumlah daerah telah mengalami hari tanpa hujan ekstrem atau lebih dari 60 hari sehingga daerah-daerah tersebut perlu mewaspadai terjadinya kekeringan. Di Jawa Timur, ada 442 desa yang mengalami kekeringan. Di antara desa yang mengalami kekeringan itu, 199 desa di antaranya mengalami kekeringan kritis yang berarti tidak ada potensi air. (https://beritagar.id/artikel/berita/kekeringan-ekstrem-di-sejumlah-wilayah-indonesia). Hal ini sebenarnya bisa menjadi bahan bermawas diri untuk para kaum muslimin. Bukankah Allah berfirman dalam surat ar-rum ayat 41: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Kekeringan yang terjadi pada bulan Agustus sebenarnya bukan hanya sekedar fenomena alam. Adanya ketidak teraturan dalam pen...

Prostitusi, yang Penting Untung.

Postitusi, bagaikan lumut dalam lembab di tanah air kita ini. setiap tahunnya selalu ada berita mengenai hal tersebut entah sebagai pemanis problematika, atau memang benar-benar sebagai kasus yang ingin diselesaikan. Baru-baru ini, berita tentang artis ibukota berinisial VA yang juga terjerat kasus prostitusi ini sedang hangat dibicarakan. Bahkan, ubdit Siber Ditreskrimsus Polda Jawa Timur mengungkap kasus prosititusi online ini melibatkan dua artis ibukota di Surabaya, terdiri dari artis berinisial VA dan foto model berinisial AS, Sabtu (5/1). Pada awalnya, kasus seperti ini adalah sesuatu yang tabu di kalangan masyarakat. Akan tetapi semakin berjalannya waktu kasus semacam itu tidak lagi asing di tanah air kita ini. pelaksanaan pemberantasan kasus inipun tidak benar-benar serius dalam upaya menyelesaikannya. Sehingga, membuat masyarakat merasa terbiasa dan tak lagi merasa tabu dengan itu. Entah karena memang terlalu pemaafnya hukum di Indonesia ini, atau memang ada beberapa p...

Keislaman Deddy Corbuzier Menuai Polemik: Ada yang Terusik?

Alhamdulillah! Saudara muslim kita bertambah lagi. Baru-baru ini Indonesia digemparkan dengan sebuah berita seorang publik figur ternama yang menyatakan keislamannya. Beliau mengaku bahwa alasan atas keputusannya itu bukan hanya sekedar ingin menikahi seorang wanita tapi karena ajaran Islam yang beliau pelajari menggetarkan hatinya, Deddy Corbuzier. Beberapa hari sebelum bersyahadat, Deddy membuat video yang berdurasi satu menit. Di dalam videonya beliau merencanakan untuk prosesi mualafnya itu disiarkan langsung di stasiun televisi pada tanggal 21 juni 2019. Beliau bermaksud agar momen keharuan ini bisa dirasakan pula oleh khalayak. Tak lama dari berita itu tersebar, tiba-tiba muncul berita yang bertentangan. Berita itu menyatakan larangan KPI untuk menyiarkan proses mualaf di TV. Katanya itu menyalahi peraturan perundang-undangan penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 6 serta standar program siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 6 Ayat (1) dan Pa...